Banner
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bermanfaatkah Website Pembelajaran ini ?
Tidak
Ya
  Lihat
Statistik

Total Hits : 72636
Pengunjung : 18742
Hari ini : 11
Hits hari ini : 50
Member Online : 8
IP : 3.85.245.126
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

   
Agenda
17 October 2019
M
S
S
R
K
J
S
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9

MENGENAL 'HOTS' AGAR MUDAH UNBK 2019

Tanggal : 05-02-2019 08:03, dibaca 43 kali.

Jakarta - Soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dikeluhkan banyak siswa karena dianggap begitu sulit. Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan soal-soal sulit itu karena adanya soal jenis higher order thinking skills (HOTS) yang disisipkan. Apa sih 'HOTS' itu?

"Tahun ini mulai disisipkan soal-soal untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa (higher order thinking skills). Tetapi jumlahnya kurang dari 15 persen. Jadi mestinya soal yang bertingkat kesulitan ringan dan sedang jauh lebih banyak," kata Muhadjir kepada detikcom.

Higher order thinking pertama kali dikemukakan oleh seorang penulis sekaligus assosiate professor dari Dusquance University bernama Susan M Brookhart dalam bukunya, 'How to Assess Higher-order Thinking Skills in Your Classroom' (2010). Dia mendefinisikan model ini sebagai metode untuk transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan memecahkan masalah.

Merujuk pada jurnal berjudul 'Higher Order Thinking Skills' karya FJ King PhD, Ludwika Goodson PhD, dan Faranak Rohani PhD di Center for Advancement of Learning and Assessment, HOTS merupakan perpaduan empat hal, yakni kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif, kemampuan berargumen, serta kemampuan mengambil keputusan. 

HOTS tak sekadar model soal, tapi juga mencakup model pengajaran. Model pembelajaran harus mencakup kemampuan berpikir, contoh, atau pengaplikasian pemikiran, dan diadaptasikan dengan kebutuhan siswa yang berbeda-beda.

Ada pula model penilaian dari HOTS yang mengharuskan siswa tak familiar dengan pertanyaan atau tugas yang diberikan. Ini dimaksudkan agar siswa memiliki cukup pengetahuan awal untuk menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Menurut jurnal tersebut, ada 3 format item dalam pengujian HOTS. Format itu adalah (a) seleksi, termasuk pilihan ganda, mencocokkan, dan pemeringkatan; (b) umum, termasuk esai, jawaban singkat, dan tugas-tugas; (c) penjelasan, yang menuliskan alasan mengapa jawaban itu dipilih.

Robyn Collins, dalam tulisannya berjudul 'Skills for the 21st Century: teaching higher-order thinking' yang dimuat dalam situs curriculum.edu.au (2014), menyebut higher order thinking bertujuan mempersiapkan masyarakat memasuki abad ke-21. Dia banyak mengutip pendapat Brookhart dalam penjabarannya mengenai higher order thinking skills.

Agaknya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sepakat dengan pendapat bahwa higher order thinking skills sebagai penilaian dan pembelajaran abad ke-21. Dalam pemaparannya, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud, Nizam, menjabarkan tentang membangun kompetensi abad ke-21.

"Siswa harus dibiasakan dengan soal-soal kecakapan berpikir orde tinggi (HOTS)," tulis Nizam dalam paparannya yang diunggah ke situs resmi Puspendik Kemdikbud, seperti dikutip detikcom.



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas

www.000webhost.com